MOZAIK KENANGAN
Oleh:
Annisa Nuraida
Aku
terus melangkah menuju gerbang itu. Langkah kakiku tidak terhenti oleh apa pun,
termasuk oleh mozaik kenangan yang mengusikku. Iya, gerbang sekolah ini adalah
tempat kita memulai untuk berbagi semuanya. Aku berjalan tiga langkah lagi
menuju madding. Kau tahu madding adalah tempatku untuk menyimpan puisi
tentangmu. Lima tahun berlalu, mozaik kenangan manis itu setia menyita seluruh
hatiku.
Aku
berjalan beberapa langkah lagi. Tiba di depan pohon besar ini, guruku memberitahu
nama pohon ini adalah pohon asam jawa. Tak heran, kenapa dulu kita suka sekali
duduk di bawah pohon ini. Apa kau masih ingat ketika aku membacakan puisi di
panggung dekat pohon ini?
“Tentang Daun-Daun”
-2010-
Sebongkah rasa
mengalir deras
dari hulu ke hilir.
Hujan, lalu gersang.
Seruan senja simbol
lampau.
Simponi-simponi
menghuni benak hati.
Suara yang lantang
Takkan sepenuh rasa
yang terpendam
Telah terkuak lewat
angin
Menggugurkan
daun-daun kering
Menandakan bekas
sebagai tanda pernah ada
Inilah
barisan puisiku. Aku tau tahu apa kau akan mengenangnya atau melupakannya
secara tragis. Pertemuan terakhir kita masih menghantui setiap sepiku dan juga
ramaiku.
“Naima,
tunggu aku sebentar ya, ada yang ingin aku perlihatkan padamu.”
“Menunggu lama pun tak masalah bagiku. Kau selesaikan
saja dulu tugasmu itu. Aku menunggumu di kantin belakang kampus.”
Kemudian
hari itu telah resmi menjadi hari terlama dalam hidupku, dan juga hari
terburukku. Kau membuatku menunggu dalam sepi seumur hidupku. Hingga saat ini.
Pusaramu selalu menjadi tempatku pulang. Tempatku bertanya dalam pilu.
Sebenarnya apa yang ingin kau perlihatkan padaku?
“Naima,
sudah waktunya kita pulang. Ikhlaskan, sayang. Dia akan sedih melihatmu seperti
ini.” Perkataan mama benar. Aku harus terus meneruskan hidupku. Meski puisi-puisi
itu masih hidup, namun pemiliknya telah pulang kepada-Nya. Maka apa yang
tersisa untukku biarlah menjadi mozaik kenangan. Biarlah terkuak lewat angin
mengugurkan daun-daun kering, menandakan bekas sebagai tanda pernah ada. Aku
mencintaimu, Eza.
Flash
Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2 in1 dari www.nulisbuku.com
di FB dan Twitter @nulisbuku