Jumat, 01 Mei 2015

Flash Fiction



MOZAIK KENANGAN

Oleh: Annisa Nuraida

Aku terus melangkah menuju gerbang itu. Langkah kakiku tidak terhenti oleh apa pun, termasuk oleh mozaik kenangan yang mengusikku. Iya, gerbang sekolah ini adalah tempat kita memulai untuk berbagi semuanya. Aku berjalan tiga langkah lagi menuju madding. Kau tahu madding adalah tempatku untuk menyimpan puisi tentangmu. Lima tahun berlalu, mozaik kenangan manis itu setia menyita seluruh hatiku.
Aku berjalan beberapa langkah lagi. Tiba di depan pohon besar ini, guruku memberitahu nama pohon ini adalah pohon asam jawa. Tak heran, kenapa dulu kita suka sekali duduk di bawah pohon ini. Apa kau masih ingat ketika aku membacakan puisi di panggung dekat pohon ini?

“Tentang Daun-Daun”
-2010-
Sebongkah rasa mengalir deras
dari hulu ke hilir.
Hujan, lalu gersang.
Seruan senja simbol lampau.
Simponi-simponi menghuni benak hati.
Suara yang lantang
Takkan sepenuh rasa yang terpendam
Telah terkuak lewat angin
Menggugurkan daun-daun kering
Menandakan bekas sebagai tanda pernah ada
Inilah barisan puisiku. Aku tau tahu apa kau akan mengenangnya atau melupakannya secara tragis. Pertemuan terakhir kita masih menghantui setiap sepiku dan juga ramaiku.
“Naima, tunggu aku sebentar ya, ada yang ingin aku perlihatkan padamu.”
“Menunggu  lama pun tak masalah bagiku. Kau selesaikan saja dulu tugasmu itu. Aku menunggumu di kantin belakang kampus.”
Kemudian hari itu telah resmi menjadi hari terlama dalam hidupku, dan juga hari terburukku. Kau membuatku menunggu dalam sepi seumur hidupku. Hingga saat ini. Pusaramu selalu menjadi tempatku pulang. Tempatku bertanya dalam pilu. Sebenarnya apa yang ingin kau perlihatkan padaku?
“Naima, sudah waktunya kita pulang. Ikhlaskan, sayang. Dia akan sedih melihatmu seperti ini.” Perkataan mama benar. Aku harus terus meneruskan hidupku. Meski puisi-puisi itu masih hidup, namun pemiliknya telah pulang kepada-Nya. Maka apa yang tersisa untukku biarlah menjadi mozaik kenangan. Biarlah terkuak lewat angin mengugurkan daun-daun kering, menandakan bekas sebagai tanda pernah ada. Aku mencintaimu, Eza.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2  in1 dari www.nulisbuku.com di FB dan Twitter @nulisbuku