Rabu, 01 Juli 2015

Gagal tuntas #NulisRandom2015

Setelah satu bulan penuh hanya mampu nulis 5 postingan
Semoga nanti lebih bertanggung jawab dan menjaga semangat

Sabtu, 13 Juni 2015

Kutipan Novel

"Kalau hidup sebatas pilihan, bagaimana ternyata jika kau adalah pilihan kedua atau berikutnya bagi orang pilihan pertamamu?"

Kata kata tersebut merupakan kutipan dari novel Berjuta Rasanya karya Darwis Tere Liye yang sedikit menyadarkan pandangan saya terhadap sesuatu. Bahwa sesungguhnya kita tidak dapat melihat suatu hal dari satu sudut pandang saja. Akan selalu ada kejadian yang menurut kita begitu spesial tapi bagi orang lain tersebut biasa saja, bahkan sudah hilang dalam ingatannya. Pun sebaliknya.

#NulisRandom2015 #Day13

Kamis, 04 Juni 2015

Baru

#NulisRandom2015 kali ini rasanya ingin berpujangga :D

Kepulan hitam diatas sana semakin pekat
Semoga hujan disini membawa berkat
Menyirami rindu yang tercekat
Karena engkau sudah tidak didekat

Engkau hilang ditelan waktu
Kemana lagi aku harus memburu
Bulan tahun sudah berlalu
Sudah saatnya tiba yang baru

Rabu, 03 Juni 2015

Curhat #NulisRandom2015

Pengalaman 2 hari ikut #NulisRandom2015 lumayan membuat otak bekerja terus :D belajar menyusun kalimat yang mudah dipahami sekaligus menambah wawasan tentang penulisan.

Senin, 01 Juni 2015

Gadis Petang itu

Seperti biasa, menunggu kereta sudah menjadi rutinitasku diwaktu petang.
Di jam pulang kerja seperti ini kereta menjadi sangat sesak belum lagi persaingan untuk mendapatkan tiket yang terbatas disetiap pemberangkatannya.
Untung saja rutinitas ini akan segera berakhir beriringan dengan usainya kuliahku.
Tapi setelah kejadian itu, aku malah menantikan saat seperti itu terulang kembali. Iya, semenjak petang itu aku selalu berandai-andai petang itu akan terulang kembali. Petang itu akan terjadi lagi.
Berjumpa sesosok gadis berkerudung biru yang sedikit acak-acakan membawa ransel yang lebih besar dari tubuhnya, mengibas-ngibaskan tangannya untuk menghilangkan pengap dalam kereta itu. Dia berdiri tepat didepan pintu kereta. Mungkin agar tidak terlalu kepanasan, beberapa kali terdorong oleh orang-orang yang sedang menaiki kereta. Tubuh mungilnya terlihat begitu rapuh, tanpa sadar mata coklatnya yang indah menangkap basah diriku yang telah memperhatikannya sejak awal aku naik kereta. Beberapa kali kulihat dia mengotak-atik androidnya, hanya untuk mengganti lagu yang sedang dia dengarkan sepertinya.
Tidak terasa kereta tiba di stasiun pemberhentian terakhir, aku tahu dia mungkin tinggal di daerah yang sama denganku. Kuberanikan diri untuk menyapanya namun saat kulihat kearahnya dia sudah turun dari kereta bersama rombongan penumpang yang sudah turun. Aku hanya bisa memandang kepalanya yang perlahan menghilang tertelan kerumunan itu. Sejak saat itu aku selalu menunggu petang itu tiba padaku lagi.

#NulisRandom2015

Prolog

"Dafni, memangnya dengan memandangi papan tulis kosong ini kau akan mendapat jawaban untuk soal trigonometri ini?". Nyaris saja lengkingan suara bu susi sang guru matematika yang memang kejam itu membuat detak jantungku meledak. Tanpa menjawab pertanyaannya langsung ku buka lembar soal yang telah ada dimejaku sejak 20 menit yang lalu itu.
Oh tidak, semua angka dan simbol itu membakar semangatku hingga tak tersisa. Ya Tuhan hambamu ini benar-benar tersesat dimasa remaja yang harusnya indah. Kulirik sekilas teman sebangkuku yang malah asik menertawakan raut wajah menderitaku
"Heh alien, jangan menertawakanku! Atau kubongkar segalanya!!" Omel ku sedikit kesal.

#NulisRandom2015

Jumat, 01 Mei 2015

Flash Fiction



MOZAIK KENANGAN

Oleh: Annisa Nuraida

Aku terus melangkah menuju gerbang itu. Langkah kakiku tidak terhenti oleh apa pun, termasuk oleh mozaik kenangan yang mengusikku. Iya, gerbang sekolah ini adalah tempat kita memulai untuk berbagi semuanya. Aku berjalan tiga langkah lagi menuju madding. Kau tahu madding adalah tempatku untuk menyimpan puisi tentangmu. Lima tahun berlalu, mozaik kenangan manis itu setia menyita seluruh hatiku.
Aku berjalan beberapa langkah lagi. Tiba di depan pohon besar ini, guruku memberitahu nama pohon ini adalah pohon asam jawa. Tak heran, kenapa dulu kita suka sekali duduk di bawah pohon ini. Apa kau masih ingat ketika aku membacakan puisi di panggung dekat pohon ini?

“Tentang Daun-Daun”
-2010-
Sebongkah rasa mengalir deras
dari hulu ke hilir.
Hujan, lalu gersang.
Seruan senja simbol lampau.
Simponi-simponi menghuni benak hati.
Suara yang lantang
Takkan sepenuh rasa yang terpendam
Telah terkuak lewat angin
Menggugurkan daun-daun kering
Menandakan bekas sebagai tanda pernah ada
Inilah barisan puisiku. Aku tau tahu apa kau akan mengenangnya atau melupakannya secara tragis. Pertemuan terakhir kita masih menghantui setiap sepiku dan juga ramaiku.
“Naima, tunggu aku sebentar ya, ada yang ingin aku perlihatkan padamu.”
“Menunggu  lama pun tak masalah bagiku. Kau selesaikan saja dulu tugasmu itu. Aku menunggumu di kantin belakang kampus.”
Kemudian hari itu telah resmi menjadi hari terlama dalam hidupku, dan juga hari terburukku. Kau membuatku menunggu dalam sepi seumur hidupku. Hingga saat ini. Pusaramu selalu menjadi tempatku pulang. Tempatku bertanya dalam pilu. Sebenarnya apa yang ingin kau perlihatkan padaku?
“Naima, sudah waktunya kita pulang. Ikhlaskan, sayang. Dia akan sedih melihatmu seperti ini.” Perkataan mama benar. Aku harus terus meneruskan hidupku. Meski puisi-puisi itu masih hidup, namun pemiliknya telah pulang kepada-Nya. Maka apa yang tersisa untukku biarlah menjadi mozaik kenangan. Biarlah terkuak lewat angin mengugurkan daun-daun kering, menandakan bekas sebagai tanda pernah ada. Aku mencintaimu, Eza.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2  in1 dari www.nulisbuku.com di FB dan Twitter @nulisbuku